Stimulasi Gerak & Postur Bayi

Menggendong dan menidurkan bayi yang sepertinya sepele itu, ternyata perlu perhatian seksama orang tua agar tumbuh kembang bayi –apalagi pascaNICU– jadi optimal.

“Stimulasi dini itu penting. Otak bayi yang sangat plastis, termasuk bayi yang dirawat di NICU (Neonatal Intensive Care Unit), perlu dibekali stimulasi yang dilakukan secara terus-menerus dan terintegrasi,” ujar dr. Ayu Partiwi, SpA, MARS, pada Parenting Class tanggal 19 Januari 2014 di Auditorium RSU Bunda Menteng, Jakarta. Lebih lanjut dr. Tiwi mengingatkan bahwa tumbuh kembang otak optimal anak terjadi di masa kehamilan hingga anak berusia 2 tahun.

Beri Stimulasi, Lakukan Evaluasi

Pengamatan dr. Tiwi menunjukkan, para ayah umumnya lebih ‘bagus’ dalam memberikan stimulasi pada bayi. “Biasanya ibu takut-takut dan harus selalu bersih dalam menstimulasi bayi. Sementara ayah, lebih berani, lebih natural dalam memberikan stimulasi,” sambung dr. Tiwi. Di usia awal, bayi memang perlu bersih dan steril, namun sejalan dengan daya tahan tubuhnya yang kian baik, secara bertahap bayi tidak harus steril lagi.

Stimulasi pada bayi bentuknya dalam aktivitas bermain, dan sebaiknya perhatikan beberapa hal berikut:

  • Stimulasi seluruh aspek perkembangan: sensori, motorik, komunikasi bahasa dan bicara (yang melibatkan pendengaran normal), kognitif, kreativitas, self help, sosial-emosi, kerja sama dan kepemimpinan, serta moral spiritual.
  • Lakukan Inisiasi Menyusu Dini (IMD) dan lanjutkan dengan menyusui bayi. Menyusui merupakan stimulasi pertama pada bayi setelah lahir.
  • Integrasikan dengan aktivitas anak sehari-hari. Misalnya, lakukan salam perpisahan ‘dadah’ atau kiss bye saat akan pamit, bukan saat masih beraktivitas di dalam ruang.
  • Usahakan mengasuh bayi sendiri. Pengasuh yang baik akan menstimulasi bayi jadi optimal, karena bayi belajar dengan meniru.
  • Hindari gadget, karena anak perlu melakukan aktivitas fisik.

Secara berkala, amati juga tumbuh kembang bayi dan pastikan tidak ada keterlambatan dengan mengisi Kuesioner Pra-Skrining Perkembangan (KPSP). “Pelajari dulu bagaimana cara mengisi dan menilai hasil KPSP,” sambung dr. Tiwi saat menjelaskan penggunaan KPSP.

Posisi Fleksi Fisiologi

Sejalan dengan penjelasan dr. Tiwi, menurut dr. Luh Karunia Wahyuni, SpKFR, Spesialis Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi, stimulasi pada bayi hendaknya melibatkan seluruh indera bayi. Bila selama ini kita mengenal 5 indera, sesungguhnya ada 7 indera yang perlu dikembangkan, yaitu: pendengaran, penglihatan, penciuman, pencecap, raba, gerak (proprioceptive) yang ada di otot dan sendi, serta keseimbangan (vestibular) yang ada di telinga tengah. “Bila stimulasi gerak dan keseimbangan bayi hingga 3-4 bulan terintegrasi dengan baik, maka postur anak akan baik. Ini akan menjadi pondasi pada tahap perkembangan selanjutnya,” jelas dr. Luh.

Lebih lanjut, dr. Luh menjelaskan perkembangan yang terjadi tiap tahap bayi sambil memeragakan stimulasi yang tepat, seperti cara membedong, menidurkan, dan menggendong bayi yang benar, lengkap dengan tip dan triknya. “Prinsipnya, upayakan bayi dalam posisi fleksi fisiologis (midline), yaitu bahu ke arah tengah, kepala segaris dengan leher dan punggung, serta lutut menekuk ke arah perut,” sambung dr. Luh.

Dr. Luh juga mengeningatkan bahwa stimulasi pada anak dilakukan dalam bentuk bermain, kontak sosial, dan belajar melakukan segala hal sesuai dengan perkembangannya secara mandiri. Bermain aktif mutlak dilakukan oleh anak. Persepsi yang baik ttidak mungkin dilakukan bila anak pasif. Anak tentu tak akan mendapat persepsi yang tepat bagaimana harus melompat tanpa jatuh bila dia tak punya pengalaman tentang hal tersebut.

“Jadi, jauhkan anak dari sedentary lifestyle. Gaya hidup kurang gerak. Hal ini membuat kapasitas fungsi jantung yang digunakan hanya 30%. Artinya, dengan 30% itulah seluruh metabolisme tubuh bekerja. Akibatnya, paru, oksigenasi, konsentrasi, otot, serta persepsi anak tidak berkembang baik. Dengan hanya menonton TV atau bermainn gadget, anak tidak mendapat pembelajaran riil. Yang bekerja hanya pembelajaran visual. Persepsi tidak dapat berkembang jika anak tidak melakukan sendiri. Anak hanya bisa bagaimana menghindari jatuh saat melompat jika dia melakukannya. Tidak bisa hanya dengan menyentuh layar gadget,” tandas dr. Luh.

Pada akhir acara, peserta Parenting Class kali ini juga mendapat kesempatan memeriksakan kesehatan jantung bayinya oleh dokter konsultan jantung anak dari Rumah Echo, dr. Piprim B. Yanuarso, SpAK. “Puasss…! Dapat banyak ilmu dan skrining jantung anak dengan harga murah. Alhamdulillah jantung anak saya sehat,” ujar seorang ibu peserta Parenting Class kali ini.

Dapatkan informasi tip dan trik stimulasi tepat gerak dan postur bayi KLIK DISINI

You have no rights to post comments