Kiat Stimulasi Gerak dan Postur Bayi

Inilah cara tepat menstimulasi gerak dan postur bayi sesuai tahap perkembangannya dari Spesialis Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi, dr. Luh Karunia Wahyuni, SpKFR.

Stimulasi gerak dan keseimbangan yang terintegrasi dengan semua sensori anak akan membuat postur tubuhnya menjadi baik pula, dan pada akhirnya meningkatkan daya konsentrasi mereka di kemudian hari. Usia 3 bulan pertama adalah masa penting dalam menstimulasi gerak dan postur tubuh anak, yang akan menjadi pondasi untuk perkembangan anak di kemudian hari.

Posisi fleksi fisiologis (midline). Inilah prinsip dasar dalam setiap gerak dan postur bayi. Pada posisi ini bahu bayi ke arah tengah, kepala segaris dengan leher dan punggung, serta lutut menekuk ke arah perut. Posisi fleksi (menutup) akan menstimulasi konsep tubuh anak, kontrol postur tubuh, stabilitas emosi (anak merasa nyaman), keseimbangan dan perkembangan otot tubuh bagian depan dan belakang, serta pernapasan yang lebih baik.

Beri kesempatan anak untuk bergerak melalui bermain dan kontak sosial. Biarkan dia bergerak secara mandiri meskipun salah, karena anak akan mengulang gerakannya agar makin terampil dan cerdas. Pada dasarnya, gerak adalah stimulasi kecerdasan!

Bayi usia 0-3 bulan:

  • Upayakan bayi selalu pada posisi fleksi fisiologis untuk stabilitas dan memperkuat otot pernapasan, oromotornya (gerak mulut) lebih baik karena tangan bayi refleks ke mulut dan diisap. Bayi juga mendapat persepsi bentuk tangan dan jarinya, serta meningkatkan koordinasi mata dan tangan.
  • Hindari bayi baru lahir tidur telentang dengan posisi tangan “W” dan kaki “M”, tidak ada pembatas kepala, serta batas tubuh terlalu kecil.
  • Upayakan kontak penuh (total contact) tubuh bayi dengan tubuh ibu, seperti perawatan kanguru (kangaroo care).
  • Bedong boleh dilakukan dengan tetap memerhatikan posisi fleksi fisiologis bayi.
  • Hindari penggunaan sarung tangan agar anak mendapat persepsi yang benar dengan ujud tangan dan kelima jarinya. Jangan sampai anak memiliki persepsi tangannya berbentuk seperti sarung tangan. Demikian pula minimalkan penggunaan kaos kaki.
  • Biarkan tangan anak masuk ke mulutnya, yang penting tangannya bersih dan kukunya terpotong rapi. Mulut adalah organ yang memiliki banyak sensori bagi bayi baru lahir. Bayi belajar membedakan tekstur air susu ibu dengan puting susu ibu, mendorong refleks muntah dari depan ke belakang mulut, dan sebagainya.
  • Saat meletakkan bayi, jangan dengan mengulurkan tangan, namun badan kita ikut serta menunduk.
  • Saat menggendong bayi, jangan hanya dipegang leher dan bokongnya karena bayi tidak nyaman. Pegang penuh seluruh tubuh bayi dalam posisi midline, dan tempelkan pada tubuh ibu atau ayah. Usahakan kepalanya segaris dengan leher dan punggung bayi, serta tangan dan kakinya tidak tergantung lepas.
  • Jangan menggoyang-goyangkan bayi saat digendong. Jika ingin mengayun bayi, maka tubuh kita yang bergoyang (lebih baik sambil bernyanyi).
  • Lakukan pijat bayi untuk menstimulasi otot dan sendinya lewat sentuhan. Ajak bayi bicara sehingga 5 inderanya terstimulasi secara simultan, yaitu indera raba, gerak, vestibular, penglihatan dan pendengaran. Inilah yang disebut sensori integrasi, yang pada akhirnya menstimulasi kognitif dan bahasa.
  • Stimulasi intensif pada bayi di ruang NICU (Neonatal Intensive Care Unit) seperti pengaturan posisi tidur yang benar dan nyaman, kangaroo care, pemberian ASI, dan sebagainya, terbukti meningkatkan sistem saraf pusat karena dilakukan secara berulang-ulang dengan pola yang benar.
  • Menempatkan bayi baru lahir pada posisi yang tepat terbukti mengurangi stres, karena dia merasa nyaman. Posisi tidur yang salah seperti tegak telentang terus-menerus, akan membuat otot pinggang dan panggul bekerja ektra keras serta otot bahu kaku, sehingga bayi menjadi sangat rewel.

 

Saat bayi mulai tengkurap:

  • Tetap pada posis midline. Bahu stabil untuk menjadi pondasi leher dan kedua siku yang bertumpu pada permukaan.
  • Leher mulai terangkat sehingga secara visual mata mulai melihat ke semua sisi. Pandangan anak menjadi lebih luas.
  • Persepsi anak mulai menyadari, “Aku punya bahu, aku punya siku, yang fungsinya untuk menumpu.”
  • Iga anak mulai ke bawah (tidak lagi datar di perut) dan leher ke atas, sehingga paru bergerak lebih luas.
  • Panggung bayi juga mulai bergerak ke atas dan ke bawah, melatih otot tubuhnya.

Saat bayi mulai merangkak:

  • Mulai ada koordinasi gerak tubuh bagian kanan dan kiri bayi secara simultan. Pada saat ini terjadi pertumbuhan korpus kalosum (corpus callosum) atau golden bridge, yaitu “jembatan” yang menghubungkan belahan otak kiri dan belahan otak kanan, yang keduanya memiliki fungsi yang tidak sama. Fungsi belahan otak kiri untuk hal-hal yang berkaitan dengan logika, berhitung, menulis dan bahasa, sementara belahan otak kanan berkaitan dengan kreativitas, musik, seni dan orientasi spasial.
  • Apakah tidak merangkak ada pengaruhnya terhadap keterlambatan anak bicara? Ya, karena  pada periode merangkak, dimana seharusnya ada keseimbangan gerak kanan dan kiri yang memengaruhi kerja belahan otan kiri dan kanan (belahan otak kiri gerakannya yang kanan, dan belahan otak kanak gerakannya yang kiri), tidak dialami oleh anak.

Saat bayi mulai duduk:

  • Leher stabil, tubuh stabil, mulai ada gerakan berputar yang artinya mengelongasi otot yang ada di sekitar pinggang sehingga gerakan iga anak akan lebih luas lagi dan otot akan lebih stabil.

Saat bayi mulai berjalan:

  • Baby walker sama sekali tidak boleh digunakan, dengan alasan apapun, karena menyalahi fisiologis tubuh bayi saat berjalan.
  • Jangan menitah bayi, karena kendali ada pada orang yang menuntun. Biarkan bayi mengendalikan tubuhnya sendiri dengan mendorong benda yang bergerak atau merambat di sofa.

 

 

Parenting Class dr. Tiwi, Jakarta, 19 Januari 2014

You have no rights to post comments