6 Pertanyaan Top Soal MPASI

Meski informasi soal makanan pendamping ASI (MPASI) sudah banyak dan mudah diperoleh para ibu, namun pertanyaan tema yang satu ini tak pernah usai.

Pertanyaan bertubi-tubi perihal pemberian MPASI tak terkecuali juga pada acara “Obrolan Sehat Lezat Bareng dr. Tiwi”, tanggal 9 Februari 2014 di Books & Beyond UPH Karawaci, Tangerang Selatan. Acara yang menghadirkan pembicara dr. Ayu Partiwi, SpA, MARS dan Yohana Elizabeth Hardjadinata, MBA, MPd, pedagog dan konselor, ini berlangsung seru. Inilah 6 pertanyaan para peserta yang mewakili banyak ibu lainnya.

1. Bayi saya mendapat ASI eksklusif 6 bulan dan hingga usia satu tahun sekarang masih dapat ASI selain MPASI. Haruskah dia mengenal susu UHT atau susu formula?

Jawab:

Hal ini berpulang kembali kepada ibu dan bayi, apakah setelah usia bayi satu tahun akan dikenalkan susu atau tidak. Selama berat badannya ideal dan nafsu makan bayi bagus, dia tidak mengenal susu pun tidak apa-apa. Zat-zat gizi yang terdapat pada susu bisa tetap diperoleh anak dari sumber makanan lain secara memadai. Apalagi, bayi-bayi ASI seringkali kurang menyukai rasa susu formula.

Susu sebagai sumber kalsium, riboflavin (B2), dan mineral zinc bisa didapat dari sumber makanan lain. Carol Byrd-Bredbenner, PhD, RD dan Donna Beshgetoor, PhD., dalam bukunya Perspectives in Nutrition, menyebutkan bahwa daya serap (bioavailabilitas) kalsium oleh tubuh dari susu masih kalah dibanding brokoli, kol, kembang kol, dan bakcoy. Sementara vitamin B2 dapat juga diperoleh dari daging dan hati. Dan, mineral zinc terkandung juga dalam kacang-kacangan serta serealia.

Kalau pun ingin mengenalkan susu untuk anak di atas setahun dengan berat badan dan nafsu makan yang baik, ibu bebas menentukan pilihan. Silakan saja pilih yang diinginkan, susu UHT atau formula. Yang jelas, jangan mengencerkan susu formula hanya karena memaksakan diri memberi susu formula pada bayi padahal status gizi si bayi kurang baik. Lebih baik manfaatkan makanan lokal sumber kalsiun seperti ikan teri segar yang dimakan dengan tulangnya daripada memberi anak dengan status gizi kurang dengan susu formula encer atau tidak sesuai takaran yang dianjurkan.

Untuk bayi dengan berat badan kurang atau kurus, susu formula bisa menjadi pilihan, selain tetap terus disusui. Karena, dua tahun pertama adalah usia gizi anak. Maksudnya, bila di usia ini tubuh anak kecil, maka biasanya dia akan kecil terus. Gizi yang baik di usia 2 tahun pertama anak akan mengawal tumbuh kembang anak hingga usia 5 tahun, karena gizi berhubungan erat dengan sistem imun.

2. Bagaimana dengan penambahan gula dan garam pada MPASI, bolehkah?

WHO memang tidak menyatakan bahwa pemberian gula dan garam dilarang pada bayi. Masalahnya, bayi belum bisa melakukan perawatan gigi sendiri, sehingga cenderung mengalami karies bila mengonsumsi gula tanpa perawatan gigi yang benar. Anak yang sudah menggemari makanan bercita rasa manis biasanya juga jadi tidak suka makan sayur.

Bukan tidak boleh, tapi bila kita teliti lagi, makanan instan umumnya ada penambahan gula dan garam. Itu sebabnya, makanan lokal yang segar lebih disarankan untuk bayi. Selera makan bayi itu pada dasarnya bagus dan sehat. Dia suka dengan makananannya yang tanpa gula dan garam. Jadi sebaiknya jangan kita rusak selera makannya tersebut untuk menghindari kegemukan dan masalah kesehatan lain di kemudian hari.

3. Makanan apa yang tepat untuk anak yang diare? Amankah obat diare yang diberikan dokter?

Obat bukan tidak boleh diberikan pada anak. Anak boleh diberi obat asal dengan alasan yang rasional (RUM = rational use of medicines). Sebagai informasi, modal seorang dokter anak dalam bekerja adalah ibu percaya pada dokter. Karena, pengobatan pada anak saat sakit bersifat sangat individual, satu anak berbeda dengan anak lain. Dokter pasti punya alasan mengapa memberikan satu jenis obat pada anak yang sedang sakit. Apabila orang tua tidak setuju dengan pemberian obat tersebut, lebih baik dipelajari komponen yang ada pada obat tersebut, lalu diskusikan dengan dokter sampai orang tua paham alasan dokter. Jadi bila ditanya perlu obat atau tidak pada bayi diare, jawabannya tergantung diagnosis. Bila perlu lakukan tes laboratorium, seperti cek rotavirus yang sekarang banyak terjadi pada bayi diare.

Untuk anak diare, karena dia kehilangan cairan, maka hal utama yang harus diberikan padanya adalah cairan yang mengandung gula dan garam. Anak yang diare terus-menerus bisa mengalami kejang karena kekurangan cairan elektrolit. Anak yang diare sampai 10 kali dapat membuatnya demam.

Untuk bayi yang mengalami diare, WHO menyarankan pemberian suplemen zinc. Apalagi pada bayi-bayi ASI, yang biasanya makin kecil kandungan zinc dari ASI setelah usia 4 bulan. Sementara untuk makanan yang dianjurkan adalah buah yang mengandung kalium tinggi, yaitu pisang. Infus yang diberikan pada anak diare biasanya juga ada cairan kalium. Bisa juga diberi apel yang mengandung pektin, yang dapat membuat konsistensi feses bayi lebih padat. Hindari dulu pemberian buah yang kandungan vitamin C dan seratnya tinggi seperti jeruk dan pepaya.

4. Apakah bila ibu menyusui mengonsumsi makanan sumber zat besi akan disalurkan ke bayi melalui ASI?

Sayangnya, keluarnya zat besi melalui ASI –meski si ibu mengonsumsi makanan sumber zat besi– sedikit sekali. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) merekomendasi agar bayi diberi suplementasi zat besi di usia 4-5 bulan. Memang tidak semua bayi perlu tambahan zat besi, dan banyak ibu menyusui yang menolak memberikan suplemen zat besi pada bayinya karena ingin memberikan ASI eksklusif. Untuk memastikan apakah bayi mengalami kekurangan zat besi atau tidak, sebaiknya dilakukan tes laboratorium. Apalagi bila sudah ada tanda-tanda bayi kekurangan zat besi, seperti malas menyusu dan berat badan tidak naik. Dari pengamatan di ruang praktik, hasil pemeriksaan zat besi pada bayi ASI usia 4-6 bulan rata-rata rendah, meski tidak anemia (kekurangan zat besi). Jadi, cadangan zat besi si anak rendah.

Bayi yang dilahirkan normal umumnya cadangan zat besinya lebih baik daripada bayi yang lahir melalui operasi Caesar. Diduga, hal ini karena pada persalinan bedah Caesa, pemotongan tali pusat lebih cepat dilakukan karena umumnya bayi kurang menangis, sehingga suplai darah dari ibu ke bayi berhentinya juga lebih cepat. Sedangkan bila lahir normal, biasanya tidak harus buru-buru memotong tali pusat (delay clamping) sehingga bayi mendapat bekal zat besi lebih baik hingga 6-12 bulan ke depan.

Beberapa bayi memang sensitif terhadap pemberian suplementasi zat besi, seperti sukar buang air besar. Untuk mengatasi hal ini, sebaiknya bayi yang sudah mengonsumsi MPASI segera diberi menu makanan kaya zat besi seperti hati ayam dan bayam.

6. Bolehkah bayi usia 8 bulan diberi potongan apel? Ibu saya melarangnya karena anak belum tumbuh gigi, sementara saya memperbolehkannya karena anak sudah kepingin.

Untuk mengunyah, bayi tidak harus pakai gigi. Gigi pertama bayi yang tumbuh adalah di depan, sementara untuk mengunyah diperlukan gigi belakang yang biasanya tumbuh di usia 2 tahun. Mengingat fase kritis bayi mengunyah terjadi di usia 6-9 bulan, maka jangan ditunggu giginya tumbuh dulu baru diberi makanan untuk dikunyah. Bayi bisa mengunyah MPASI yang dimulai dengan tekstur yang lembut lalu bertahap ke kasar.

Bayi mengunyah dengan gusinya, dan jangan samakan gusi bayi dengan gusi orang dewasa. Di dalam gusi bayi sebenarnya ada giginya, tapi belum muncul/tumbuh. Bila bayi tidak diberi stimulasi mengunyah makanan pada fase kritis maka akan lebih sulit bagi kita untuk mengajarinya kelak. Demikian pula dengan fase kritis perkembangan yang lain, seperti toilet training dan sikat gigi. Jadi, biarkan saja bayi makan potongan apel, apalagi dia sudah bisa pegang sendiri.

Perihal perbedaan pendapat dengan orang tua dalam pengasuhan anak, hendaknya kita tetap menghormati orang tua. Dengarkan omongannya, jangan membantah, karena bagaimana pun orang tua kita lebih berpengalaman, setidaknya telah membesarkan kita atau pasangan. Hanya saja, karena keterbatasan informasi jaman dulu, maka cara yang mereka lakukan mungkin dianggap tidak tepat lagi. Dalam menghadapi situasi seperti ini, lebih baik kita bangun pola komunikasi yang baik dengan orang tua kita. Dengarkan dulu apa pendapat orang tua kita, lalu saring mana yang benar dan bisa kita manfaatkan, serta mana yang kurang tepat. Komunikasikan baik-baik keberatan kita, bila perlu ajak bersama-sama belajar perihal tumbuh kembang anak.

Siasat Anak Suka Sayur klik disini

You have no rights to post comments