Hamil Prima, Menyusui Lancar

Kelancaran proses menyusui sejatinya dimulai sejak masa kehamilan. Calon ibu punya cukup banyak waktu mencari tahu tentang menyusui; juga melakukan intervensi dengan konsumsi gizi seimbang.

Dari yang ingin hamil sampai ibu hamil anak kedua, pagi 28 Februari 2013 memenuhi ruang Auditorium lantai 8 RSU Bunda Menteng, Jakarta, untuk menyimak dan berdiskusi perihal “Persiapan Menyusui dan Gizi Prima Sejak Hamil” bersama dr. Ivan R. Sini, FRANZCOG, GDRM, SpOG dan dr. Ayu Partiwi, SpA, MARS. Beberapa ibu bahkan didampingi suami.

Esensi kehamilan

Bukan tanpa alasan bila 9 bulan kehamilan dibagi menjadi 3 trimester, yaitu trimester 1 (kehamilan 1-3 bulan), trimester 2 (kehamilan 3-6 bulan) dan trimester 3 (6-9 bulan). “Setiap trimester dalam kehamilan mempunyai kekhususan dan kebutuhan tertentu yang berbeda, dan kecukupan gizi serta cairan merupakan esensinya,” ujar dr. Ivan membuka presentasinya.

Trimester pertama kehamilan merupakan masa rentan. Ibu hamil umumnya mengalami mual dan muntah, dehidrasi (kurang cairan), dan perdarahan ringan. Itu sebabnya kecukupan gizi seimbang penting untuk dipenuhi. Sementara trimester dua kehamilan, meski merupakan masa pembentukan jaringan inti tubuh janin, namun bisa disebut sebagai masa aman. Mual hilang dan ibu lebih bisa menikmati makanan. Di trimester tiga kehamilan biasanya komplikasi mulai meningkat, seperti terjadinya pre-eklampsia. Pada saat ini kebutuhan energi pun meningkat, salah satunya untuk persiapan persalinan.

Sebenarnya, fungsi makanan dan minuman seimbang bukan hanya untuk pertumbuhan janin serta menjaga kesehatan dan kekuatan ibu, tetapi juga sebagai cadangan tubuh yang akan digunakan pada saat menyusui kelak setelah bayi lahir. Itu sebabnya, menjaga kualitas makanan dan minuman penting diperhatikan. “Balance of good health. Makan dan minumlah dengan gizi seimbang,” sambung dr. Ivan yang juga menjelaskan pentingnya konsumsi cairan bagi ibu hamil. “Yang terbaik adalah air minum bening. Cukupi sebanyak 1500 – 2000 mililiter per hari.”

 

ASI dan proses menyusui sama pentingnya

Proses menyusui sebaiknya memang dimulai sejak hamil. Bukan saja karena payudara ibu mengeluarkan cairan bening agak kekuningan yang disebut kolostrum sejak hamil, tetapi juga karena pada saat ini ibu masih punya banyak waktu untuk membaca dan mencari informasi sebanya-banyaknya dan seakurat mungkin perihal proses laktasi. “Setelah bayi lahir, ibu akan sangat sibuk mengurus bayinya,” ujar dr. Ayu Partiwi yang akrab disapa dr. Tiwi menyambung presentasi dr. Ivan.

Lebih lanjut dr. Tiwi mengungkapkan manfaat ASI untuk tumbuh kembang otak anak. Selama hamil, nutrisi adalah hal yang penting yang harus didapat otak janin, sementara stimulasi minimal. Begitu lahir, otak bayi yang hampir sempurna itu, selain tetap membutuhkan nutrisi, juga butuh stimulasi optimal yang dapat diperoleh bayi lewat proses menyusui.

Otak bayi baru lahir dapat menangkap stimulasi melalui panca indera, yaitu kulit,penglihatan, penciuman, pendengaran dan pengecap. Melaluiproses menyusui, bayi terpapar pada stimulasi yang kompleks yang merangsang perkembangan kelima inderanya tersebut.“Jadi, bukan hanya kandungan ASI yang sangat baik bagi tumbuh kembang otak bayi, namun proses menyusui juga penting untuk menstimulasi otak bayi, termasuk kelekatan hubungan ibu dan bayi (attachment),” tandas dr. Tiwi.

Dr. Tiwi juga mengingatkan pentingnya dukungan lingkungan ibu, khususnya ayah, dalam proses menyusui. Suami yang terlibat penuh dalam kehamilan dan persalinan istrinya, serta pengasuhan bayi, terbukti meningkatkan produksi ASI.

 

Hari istimewa

Ada yang istimewa pada acara Parenting Class kali ini. Para peserta berkesempatan mendapatkan buku “Bayi Tabung: Mempersiapkan Kehamilan – Menanti Kelahiran” karya dr. Ivan R. Sini, SPOG, yang akan diluncurkan siang hari pada hari yang sama. Buku unik dengan 2 sampul muka ini berisikan informasi lengkap perihal kehamilan, kelahiran, dan tentu saja tentang bayi tabung. Selamat dan sukses!

You have no rights to post comments