Stres, Cinta dan ASI

Reza Gunawan – Praktisi Penyembuhan Holistik (Tulisan ini  adalah salah satu tulisan dalam buku BEDAH ASI yang dikeluarkan IDAI)

Anak yang tumbuh sehat, cerdas dan bahagia. Itulah cita-cita, doa dan harapan setiap orang tua.  Berbagai upaya, cara, metode dan strategi ditempuh untuk memaksimalkan proses tumbuh kembang anak.  Namun pada saat yang sama, terdapat juga berbagai tantangan, kerumitan yang sulit terantisipansi, bahkan di abad modern ini agaknya mengasuh anak dengan arif dan baik justru terlihat semakin sulit.

Adakah mungkin yang terlewat di tengah segala detil yang perlu diperhatikan? Maukah kita sejenak merenungkan dimanakah titik awal dari anak yang berbahagia?  Mungkinkah syarat utama dari anak yang bahagia, sebenarnya bermula dari orangtua yang bahagia?

Barangkali ini benar, dan seandainya memang demikian muncul pertanyaan mengapa sebagian besar informasi yang bisa diperoleh tentang tumbuh kembang anak malah tidak meluangkan cukup perhatian pada bagaimana orangtua bisa berbahagia?  Bukankah itu prasyarat agar anak bisa belajar untuk berbahagia dalam hidupnya?

Terlalu Fokus Ke Anak, Diri Terbengkalai

Ingatkah Anda tentang instruksi sebelum pesawat terbang akan lepas landas, yang menjelaskan prosedur keselamatan bagi mereka yang pergi bersama anak kecil?  Kita senantiasa diingatkan jika masker oksigen turun, kenakan alat tersebut pada diri sendiri sebelum memasangnya pada anak kecil di sebelah kita.  Relakah kita untuk berhenti sejenak dan menghayati filosofi di balik anjuran ini?

Dengan rendah hati saya mohon izin untuk meminjam perhatian Anda sejenak.  Atau lebih tepatnya mengalokasikan perhatian yang sebagian besar biasanya berpusat pada anak Anda, menjadi mulai memperhatikan diri Anda sendiri.

Bagaimanapun juga, kita tidak bisa bermanfaat bagi orang lain sebelum menolong diri sendiri.  Entah mengapa, prinsip sederhana ini kerap terabaikan oleh para orangtua yang kerapkali melupakan dirinya dan keselarasan hidupnya.

Oleh karena itu, saya ingin memulai pembahasan tentang bagaimana kita, terutama para orangtua, bisa tercuri kebahagiaannya.  Mungkin jika kita siap merunut sejauh ini, maka mungkin kita bisa mencetus suatu kesadaran baru dalam mengelola tumbuh kembang anak yang lebih realistis, sederhana dan bijaksana.

Sulitnya Mengelola Pencuri Kebahagiaan

Ketika kita menengok lebih jauh ke dalam kehidupan sehari-hari, umumnya kita akan menemukan sebuah kata menarik yang jarang kita renungkan, namun kerap dialami semua orang. Kata tersebut adalah “Stres”.

Akrab, lazim, namun jarang dipahami secara total.  Kemanakah jari Anda menunjuk, ketika ditanya dimana letaknya stres bagi Anda?

Sebagian orang akan menunjuk ke kepala dan otak, dimana seringkali muncul berbagai rasa kuatir, pikiran yang enggan diajak beristirahat, hingga seolah kesibukan roda pikir menjadi kebanggaan, atau bahkan simbol pembuktian bahwa diri kita produktif dan sukses.  Sebagian orang lain akan menunjuk ke dadanya sebagai perwakilan dari rasa tidak bahagia yang bermacam-macam jubahnya, baik sedih, kecewa, frustrasi, marah, kuatir, duka, dan rasa letih karena mengejar ambisi secara ngoyo’.

Saya rasa menjadi orangtua pun merupakan kondisi hidup yang juga menggiring kita untuk menghadapi pasang surutnya stres, terutama dengan sederet target yang kita pasang bagi anak tercinta, dan semuanya harus dicapai dengan hasrat kesempurnaan.  Sungguh beban yang luar biasa!

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Simonton menunjukkan bahwa stres bukanlah suatu beban yang muncul akibat peristiwa tertentu yang terjadi dalam hidup kita, namun beban yang muncul akibat ketidakmampuan kita untuk menghadapi dan mengelola diri ketika suatu perubahan hidup terjadi.

Jadi stres adalah fenomena tidak adanya ketrampilan untuk mengelola tubuh, jiwa dan pikiran kita.  Ini tentunya menjadi sudut introspeksi karena seringkali dengan mudah kita menuding kepada pihak tertentu atau peristiwa tertentu sebagai “penyebab” stres kita, padahal penyebab sebenarnya ada di ketidaktrampilan kita dalam menata diri.

Bahkan semakin kita menghayati fenomena stres, semakin juga kita menyadari bahwa stres bukanlah sekadar fenomena pikiran saja, namun merupakan pengalaman lahir batin (mind-body experience).  Inilah yang menjadikan pengelolaan stres secara sehat menjadi landasan dasar untuk mencapai sehat sentosa.

OK, sekarang saatnya untuk berhenti membaca, dan merasakan nafas Anda saat ini, di tempat ini.  Cukup jauh kita merunut dari bagaimana mengasuh anak hingga tiba di suatu titik dimana Anda pun diajak bercermin tentang bagaimana Anda sendiri mengelola stres. Dari titik inilah akan terbentuk orangtua yang bahagia, hingga anak pun akan memetik keteladanan untuk berbahagia bagi hidupnya sendiri.

Pendekatan Menyeluruh untuk Mencapai Sehat Sentosa

Tubuh (fisik) dengan pikiran dan jiwa (psikis), merupakan satu kesatuan yang tidak bisa dipisah-pisahkan.  Ini sudah dijelaskan oleh tradisi penyembuhan alamiah yang sudah ada ribuan tahun lalu, dan sekarang semakin tervalidasi dengan perkembangan pengetahuan ilmiah saat ini.

Aspek kesehatan fisik pun menjadi relevan dalam penelusuran kita, karena hampir sebagian besar diantara kita pernah mengalami langsung atau melihat orang di lingkungan kita, yang setelah mengalami stres bertubi-tubi, tiba-tiba menjadi jatuh sakit.  Ini yang disebut “penyakit psikosomatis” dalam dunia medis.  Dalil sederhana untuk memahami  kedua hal ini bagaikan cermin, bahwa apa yang terjadi pada pikiran / jiwa akan tercermin dalam tubuh fisik, dan demikian pula sebaliknya.

Mulai dari sulit tidur, gangguan sistem saraf dan hormon, tekanan darah, kelelahan kronis, hingga nyeri otot, memiliki implikasi bagi di fisik maupun psikis.  Atau dengan kata lain, hampir semua ketidakselarasan yang dialami manusia memiliki eksistensi di fisik dan psikis.  Bahkan muncul juga istilah keterkaitan dalam model PNEI (psycho-neuro-endocrino-immuno), yang maksudnya bahwa ketidakselarasan pikiran dan jiwa (psycho) akan mencetuskan gangguan keseimbangan saraf (neuro), yang selanjutnya akan mengganggu fungsi hormonal (endocrino) dan akhirnya mempengaruhi daya tahan tubuh (immuno).

Jangan lupa bahwa anak tidak hanya belajar tentang hal-hal yang diucapkan oleh orangtua secara verbal, namun juga anak belajar berdasarkan apa yang dirasakan oleh orangtuanya, sehingga bagaimana pola orangtua mengatasi stres pun menjadi suatu pembelajaran bagi anak, meskipun lebih bersifat pembelajaran intuitif ketimbang analitis / intelektual. Ini semua sebenarnya menggiring kita pada kesadaran baru dalam merawat kesehatan lahir dan batin, atau apa yang dikenal sebagai kesehatan holistik.

Kesehatan Holistik Yang Perlu Disadari Bersama

Kesehatan holistik mengandung pengertian sehat tubuh (pola makan, istirahat dan olahraga yang tepat), sehat pikiran (alam pikiran yang mampu rileks, tenang, jernih), sehat jiwa (ikhlas, tentram dan pasrah) dan sehat energi (mengalir dan harmonis).  Semua komponen ini saling melengkapi dan menunjang.

Tanpa memelihara kesehatan diri secara holistik, maka segala hal yang sudah kita lakukan secara umum, seperti mengatur pola makan dan berolahraga, serta anjuran medis lainnya, akan menghasilkan solusi yang parsial dan tidak lengkap.

ASI dan Stres

Proses menyusui bukanlah semata mata proses antara ibu dan bayi saja. Bagaimana seorang ayah dan lingkungan yang mengelilingi ibu sangat menentukan keberhasilan menyusui. Bahkan proses memberikan ASI itu sendiri memiliki aspek psikologis dan ruhaniah antara ibu, bayi dan seorang ayah, bukan sekedar tempel dan biarkan bayi menyusu saja.

Ada beberapa jenis stres yang umum dialami oleh ibu menyusui.  Dari mulai kuatir akan kurangnya kuantitas produksi ASI, atau merasa kualitas ASInya tidak cukup baik untuk sang bayi, takut bentuk tubuh atau payudaranya berubah (faktor estetika), stres akibat perubahan pola / gaya hidup terutama bilamana menyusui anak pertama, takut terjangkit penyakit selama masa ASI eksklusif 6 bulan, stres karena merasa pemberian ASI kurang praktis bagi ibu yang bekerja, dan stres dari kurang tepatnya dukungan suami / sang ayah bagi kegiatan memberikan ASI sebagai makanan terbaik bagi bayi.

Semua stres ini akan secara otomatis mempengaruhi produksi hormon oksitosin yang tidak boleh dianggap remeh peranannya dalam produksi ASI yang berkualitas. Sayangnya, selama ini tidak semua orang memahami pentingnya mengelola stres, bahkan kita cuma tahu, “Kamu jangan stres!” dan malah menjadi semakin stres akibat solusi yang tidak menjangkau intinya.

Sains Baru Yang Memperluas Kesadaran Peran Orangtua

Sungguh kita hidup di zaman yang menarik. Sedikit demi sedikit, berbagai rahasia alam semakin dapat dipahami oleh berkembangnya sains.  Cukup banyak dasar ilmu pengetahuan serta akal sehat yang dahulu kita pelajari dari sistem pendidikan formal, yang sekarang menjadi kurang akurat setelah ditelaah ulang lewat berbagai sains baru, termasuk dalam bidang kesehatan lahir dan batin.

Contoh pertama, kode genetika yang tersimpan dalam inti sel manusia, atau biasanya disebut DNA, selama ini dikenal sebagai pangkal terbentuknya kesehatan dan bahkan karakter jiwa seseorang.  Pemahaman ini telah menjadi salah satu asumsi dasar ilmu medis, sehingga ketika seseorang mengalami penyakit tertentu yang diklasifikasikan sebagai penyakit karena keturunan (genetika), maka konsekuensinya kita cenderung menjadi “korban” dari rangkaian gen yang kita warisi dan ada ketidakberdayaan mental yang hadir karena kode DNA ini dianggap tetap, baku dan tidak bisa berubah.

Namun studi yang dilakukan oleh Bruce Lipton, PhD, seorang pakar biologi sel yang saat ini terkenal dengan karyanya “Biology of Belief”, menjelaskan bahwa asumsi dasar ini tidaklah benar.  Pertama, menurutnya kode DNA bukanlah pangkal kesehatan manusia, karena kode ini hanya bersifat sebagai saklar yang terpetakan dalam sel.  Kapan saklar tersebut teraktifkan atau tidak aktif, tergantung dari sinyal elektromagnet di sekitar dinding sel, yang bukan lain adalah berbagai pikiran dan perasaan kita.  Dampak dari temuan ini adalah kita tidak lagi bisa menyalahkan warisan genetika sebagai penyebab penyakit atau sifat buruk seseorang semata, namun juga harus menyadari pentingnya keselarasan tubuh, pikiran dan jiwa, atau dengan kata lain, kesehatan holistik.

Contoh kedua, biasanya kita cenderung memperhatikan potensi anak ketika masih berada dalam kandungan, dimana kebutuhan nutrisi, emosional dan keselarasan jiwa sang ibu diperhatikan lebih cermat. Percobaan ilmiah yang dilakukan oleh Dr. Cleve Backster bersama dengan US Army, justru menunjukkan fenomena yang begitu mencengangkan karena tidak bisa dijelaskan oleh sains konvensional.

Sebelumnya kita sudah mengetahui secara ilmiah bahwa emosi sangat mempengaruhi fungsi sel dalam tubuh manusia.  Pada tahun 1993, mereka menginvestigasi lebih lanjut apakah kekuatan emosi kita juga mempengaruhi sel hidup, terutama DNAnya, juga sel tersebut sudah berpisah dari tubuh.  Akal sehat mengatakan tentu saja emosi sudah tidak lagi mempengaruhi sel hidup yang terpisah.

Untuk studi ini, para periset mulai mengumpulkan DNA dari air liur para sukarelawan.  Sampel liur ini kemudian diisolir dan dipindah ke ruangan lain dalam gedung yang sama.  Dalam ruangan khusus tersebut, aktivitas listrik dari DNA diukur untuk menentukan apakah ada perubahan aktivitas DNA akibat perubahan emosi si pemilik air liur tersebut.  Sementara itu dalam ruang terpisah, sang donor DNA diperlihatkan serangkaian film yang dirancang untuk memicu berbagai emosi dalam tubuhnya, dari mulai film tentang perang, gambar erotis, hingga komedi.

Yang mengejutkan dalam hasil riset tersebut, meskipun tidak ada penjelasan ilmiah yang saat itu bisa menjelaskan koneksitas antara donor DNA dengan air liurnya sendiri, terjadi perubahan respons listrik pada DNA di ruang lain yang terjadi bertepatan dengan naik turunnya emosi donor DNA di ruang film.  Bahkan eksperimen ini sempat diulang lagi dengan jarak antara air liur dan pendonornya hingga 350 mil, dan hasilnya tetap sama.  Ketika si pendonor liur mengalami perubahan emosi, DNAnya yang secara fisik terpisah demikian jauh mengalami perubahan seketika, bagaikan masih berada dalam tubuh si pendonor.

Dari hasil ini, kita bisa melihat bahwa 2 sel hidup yang terpaut secara genetika, meskipun terpisah secara fisik sejauh ratusan mil, akan selalu berhubungan dan saling mempengaruhi dalam suatu dinamika, meskipun koneksitas tersebut hanya bisa dijelaskan oleh sains baru seperti fisika kuantum.

Bahkan jika kita ingat bahwa anak adalah hasil pertemuan genetika dari kedua orangnya, maka tidaklah terlalu sulit untuk berhipotesa bahwa keterkaitan genetika terjadi tidak saja dalam kandungan, namun juga dalam masa setelah anak dilahirkan, dan juga tidak hanya antara anak dengan ibu, namun juga dengan ayahnya.

Keterkaitan genetika yang muncul dari proses terbentuknya janin, serta juga asupan air susu ibu (ASI) yang senantiasa diberikan di masa awal tumbuh kembang anak ini tentu saja ini masih perlu ditelaah lebih jauh lagi, namun ilmu psikologi perkembangan cenderung mendukung peranan kedua orangtua dalam pertumbuhan jiwa anak yang sehat dan bahagia dalam masa setelah kelahiran.

Apapun temuan-temuan ilmiah selanjutnya, serta seberapa jauh ilmu fisika kuantum dan biologi kuantum terus berkembang, agaknya cukup masuk akal bagi kita untuk menelaah ulang asumsi yang selama ini sudah baku dalam dunia kedokteran dan psikologi, tentunya untuk mencapai pemahaman yang lebih lengkap tentang kehidupan dan alam.  Dalam tingkat yang paling praktis, minimal setiap orangtua hendaknya paham bahwa ada pengaruh dari bagaimana mereka mengelola diri dalam hidup, terhadap perkembangan sel, jiwa dan kebahagiaan anaknya, di setiap saat.

Teori Ilmiah Tentang Cinta

Beberapa profesor dari bidang psikiatri, Thomas Lewis, M.D., Fari Amini, M.D. dan Richard Lannon, M.D., dalam karyanya “General Theory of Love”, menjelaskan tentang bagaimana sistem otak dan saraf manusia belajar tentang cinta.

Sains tentang otak dan saraf menjelaskan tentang 3 tingkatan fungsi otak manusia.  Bagian pertama adalah otak reptil, yang berada di ujung atas dari saraf spinal dan berfungsi untuk memelihara diri dan bertahan hidup.  Termasuk dalam fungsi ini adalah pengaturan fungsi tubuh yang vital serta bentuk emosi dasar seperti rasa kuatir dan takut yang berkaitan dengan mekanisme kita dalam melindungi diri dan bertahan hidup.

Tingkatan otak kedua adalah sistem limbik, yang hanya dimiliki oleh mamalia (makhluk hidup yang menyusui) termasuk manusia.  Sistem limbik inipun kerap disebut sebagai “the emotional brain”, karena secara fungsional merekam dan memproses berbagai pengalaman rasa/emosi yang kita alami dalam hidup, terutama emosi yang lebih tinggi kompleksitasnya seperti bagaimana kita mengenal, merasakan dan mendefinisikan ekspresi rasa cinta.

Dan akhirnya tingkatan otak ketiga, yang mencakup sekitar 80% dari seluruh otak manusia adalah sistem neokorteks yang mengatur fungsi akal sehat, bahasa, kreativitas, berpikir, mempertimbangkan, dll.

Yang menarik adalah sistem ini tidak bisa berfungsi dengan optimal ketika tidak ada keselarasan dalam sistem limbik, atau dengan bahasa yang lebih mudah, tidak ada kejernihan berpikir atau kreativitas atau akal sehat, ketika perasaan hati / emosi kita sedang kacau.

Mungkin itulah sebabnya kita mendengar kearifan dari generasi terdahulu bahwa sebaiknya kita menenangkan hati terlebih dahulu sebelum mengambil keputusan atau suatu langkah penting dalam hidup.  Barangkali sudah waktunya kita lebih memperhatikan wejangan-wejangan dari para tetua kita yang dahulu hidup lebih dekat dengan alam, apalagi dengan berbagai pembenaran ilmiah yang muncul tentang kearifan zaman dahulu seperti ini.

Studi yang dilakukan oleh Heartmath di Amerika juga menunjukkan bahwa keselarasan hati dan otak, juga memaksimalkan medan elektromagnetik yang terpancar dari jantung ke sekitar tubuh kita, dan pancaran medan elektromagnetik ini memunculkan perubahan aktivitas sel hidup baik dalam orang itu sendiri, maupun sel hidup di luar tubuhnya.  Ini terdeteksi lewat perubahan aktivitas DNA melalui suatu eksperimen ilmiah.  Dalam bahasa yang lebih lugas, ternyata bagaimana kita mengelola stres, dan memelihara keselarasan diri, ternyata juga berpengaruh terhadap aktivitas dan ekspresi sel hidup di sekitar kita, termasuk pada anak kita sendiri.  Dahulu ini sudah diketahui berdasarkan teori psikologis, namun melalui temuan ilmiah baru seperti ini, ternyata keterkaitan antar manusia juga terjadi secara emosional, elektromagnetik serta fisik (sel & DNA).

Resonansi Limbik Antara Anak dan Orangtua

Bayi memiliki kemampuan yang hebat dalam mendeteksi, merasakan dan mengekspresikan emosi, yang menjadikan mereka mengalokasikan perhatian yang besar pada ekspresi wajah orang disekitarnya.  Bahkan bayi yang baru berumur beberapa hari saja sudah bisa membedakan makna dari bermacam ekspresi wajah yang dilihatnya.

Bagaimana ini bisa terjadi? Apakah bayi memiliki kemampuan telepatis dengan orangtuanya?  Sebagian riset memperkuat kemungkinan ini, sebagai studi menunjukkan bahwa gelombang otak anak dari usia 0 – 7 tahun, cenderung lambat di sekitar frekuensi delta / theta, atau sekitar 0.5 hingga 7 hertz, dan studi tentang otak menunjukkan memang gelombang otak lambat ini memang berhubungan dengan fungsi intuisi dan telepati.  Dari petunjuk ini, timbullah suatu kemungkinan bahwa anak, dari janin hingga 7 tahun, lebih banyak belajar bagaikan spons informasi yang menyerap segala hal di sekitarnya, ketimbang menyerap secara linier dan analitis.

Emosi adalah salah satu fungsi sosial yang terjadi pada makhluk hidup yang memiliki otak limbik.  Sama seperti penglihatan yang memberikan kita data dari pantulan cahaya elektromagnet, dan pendengaran yang memberikan kita data dari perubahan tekanan gelombang udara, maka merasakan emosi adalah suatu data tentang kondisi di dalam dirinya serta kondisi di dalam diri makhluk sekitarnya.

Bahkan kepekaan emosi ini juga berkembang menjadi kemampuan yang disebut resonansi limbik, yaitu pertukaran rasa dan adaptasi internal yang terjadi terus menerus antara 2 otak limbik, dimana kedua makhluk inipun menjadi semakin terpaut rasa.  Coba bayangkan ketika Anda menatap kedua mata dari orang yang begitu Anda cintai, pada saat yang sama sebenarnya sistem saraf dari orang tersebut dan Anda secara otomatis terpaut dan saling melakukan adaptasi dan pertukaran informasi, ditandai dengan serangkaian perasaan hati yang datang dan pergi.

Proses resonansi limbik ini juga terjadi antara anak dengan orangtua.  Setiap pengalaman orangtua, baik yang hanya dirasakan di dalam hati, maupun yang terucap, hingga yang terwujud dalam bentuk perilaku, adalah dinamika yang terekam sebagai bahan belajar bagi otak limbik sang anak.  Inilah alasan satu lagi, mengapa sangat penting bagi orangtua untuk tidak membengkalaikan penyelarasan dirinya sendiri, karena anak banyak belajar dari apa yang tidak terucap dan tidak terlihat dari orangtuanya, ketimbang dari yang sekadar terucap dan terlihat.

ASI, Genetika dan Cinta

Kalau demikian, apakah implikasinya terhadap kegiatan menyusui dengan ASI?  Kita sekarang bisa mulai mengintegrasikan berbagai aspek yang sudah dibahas sebelumnya secara lebih holistik.

Di satu sisi, ASI merupakan nutrisi yang terbaik bagi bayi.  Kita sudah membaca aspek nutrisi serta implikasi secara fisik dari pemberian ASI terhadap bayi dalam bab-bab sebelumnya.  Namun kita juga perlu ingat bahwa proses pemberian ASI tersebut pun memiliki dimensi psikologis dan spiritual yang begitu penting bagi masa depan anak.

Dalam proses menyusui dengan ASI, terjadi proses penyatuan yang alami dan sehat secara kejiwaan antara ibu dan anak.  Proses resonansi limbik terjadi, dan ketika memberikan ASI dilakukan dengan penuh cinta dan keikhlasan, maka data tersebutlah yang juga terekam dalam sistem saraf bayi, yang akan menyirami benih cinta dalam diri mereka sendiri.  Tanyakan kepada para psikolog, betapa banyak masalah kejiwaan dengan berbagai klasifikasi dan judul, yang sesungguhnya berhubungan dengan ketidakmampuan seseorang untuk mengenal dan mencintai dirinya sendiri.

Selain itu, sesuai dengan riset tentang genetika dan pola asuh, proses pemberian ASI yang dibarengi dengan kesadaran jiwa, keselarasan hati, serta cinta kasih, akan mempengaruhi ekspresi genetik yang ideal, sehingga menghasilkan kesehatan fisik yang optimal.

Bisakah sekarang Anda mulai melihat gambaran luasnya ketimbang gambaran sepotong saja?  Bagaikan melihat seluruh hutan, ketimbang hanya fokus pada 1 atau beberapa pohon saja?

Saya undang Anda untuk berhenti sejenak, bernafas dengan lembut, mengizinkan segala informasi yang baru saja Anda baca untuk direnungkan kembali.

Mengelola Stres dengan Mandiri, Sederhana, dan Efektif

Untuk dapat mengelola stres dengan baik, maka kita memerlukan latihan.  Tahap pertama yang mendasar adalah belajar untuk rileks.  Ingat bahwa beban dan ketegangan diri tidak pernah akan menolong situasi apapun.

Berbagai latihan yang bersifat merilekskan maupun menenangkan seperti bernafas dengan lembut dan teratur, meditasi, relaksasi progresif dan sebagainya, dapat membantu memulihkan kembali ketidakseimbangan saraf dan hormon, meningkatkan kekuatan sistem kekebalan tubuh, dan memberikan ketenangan dan kepasrahan yang alami.

Yang menarik adalah menurut pakar pendidikan Bpk Arief Rahman, kepasrahan saat menyusui dari seorang ibu merupakan perilaku seorang wanita yang tertinggi nilai keluhurannya sepanjang hidupnya.

Dengan berlatih mengembalikan keselarasan diri, termasuk dengan latihan nafas, gerak, sentuhan, pijatan serta keheningan dan kesadaran, kita bisa memelihara kesehatan lahir batin lebih alami.

Lalu dimana peran suami? Para suami/ayah mempunyai peran memberi dukungan, ketenangan bagi ibu yang sedang menyusui. Dalam praktek sehari-hari tampaknya peran ayah ini justru sangat menentukan keberhasilan menyusui (breastfeeding father). Inipun mencakup seberapa jauh ketrampilan masing-masing ayah maupun ibu dalam menata dirinya dalam mengelola stres.

Dengan melatih menata diri secara lahir batin, produksi ASI pun menjadi lebih lancar dengan kualitas yang semakin baik. Ingat bahwa ASI yang diproduksi ibu tidak lepas dari keselarasan pikiran dan jiwa dari kedua orangtua bayi, sehingga melalui ASI, pikiran dan jiwa bayipun ditumbuhkembangkan agar menjadi karakter yang kuat, cerdas dan bijaksana.

Bayi Bahagia dimulai dari Orangtua Yang Bahagia

Sekarang saatnya untuk melihat apakah mungkin kita dapat menyimpulkan pemahaman yang sederhana dan aplikatif dari penjabaran sebelumnya.

Pertama saya mengusulkan agar kita mulai menyadari bahwa “Bayi Bahagia sebenarnya dimulai dari Orangtua yang Bahagia”, dan menindaklanjuti kesadaran tersebut untuk mulai bercermin pada diri sendiri, ketimbang meletakkan 100% perhatian hanya anak, sehingga diri terbengkalai.

Kedua, setelah kita lebih sadar pada diri, mulai belajar untuk secara sederhana dan efektif merawat keselarasan diri seutuhnya, secara lahir batin agar hidup semakin sehat sentosa.  Ini bisa dimulai dengan belajar untuk rileks, berlatih diri untuk meluangkan saat hening setiap hari, mulai membiasakan pola komunikasi yang semakin jujur dan tulus, serta mempelajari ketrampilan untuk mengolah emosi hingga mampu mencairkan segala ketegangan menjadi kondisi yang tenteram dan ikhlas.

Ketiga, hayatilah proses menyusui sebagai suatu bentuk keluhuran yang tidak bisa tergantikan dalam fase tumbuh kembang anak.  ASI tidak hanya penting karena nutrisinya, namun menjadi kondisi dasar untuk membentuk anak yang penuh cinta dan sukacita.  Lakukan proses menyusui dengan kesadaran penuh terhadap pertukaran rasa dan kasih sayang, ingatlah bahwa ini adalah investasi lahir batin yang tidak akan pernah bisa tergantikan, terutama karena memang merupakan perwujudan naluri cinta ibu.

Keempat, bagi kedua orangtua, terutama ayah, sadari bahwa anak sangatlah terbuka menyerap bagaimana kedua orangtuanya merasakan dan mengalami stres, serta menghayati dan mengekspresikan cinta.  Itu sebabnya, teruslah sirami keharmonisan hubungan rumah tangga, komunikasikan diri selalu dengan jujur dan tulus, dibarengi dengan suasana spiritualitas yang tercukupi sebagai landasan bagi para jiwa untuk bertumbuh dalam keluarga tersebut.

Terakhir, saya mengajak Anda untuk menjadi konsumen yang aktif mengedukasi diri sendiri.  Jangan cenderung percaya atau tidak percaya pada sumber informasi tertentu saja.  Terbukalah akan berbagai informasi yang bermanfaat untuk hidup Anda, namun ingat juga bahwa para ahli, baik di bidang medis, psikologis maupun penyembuhan alamiah, tidak akan pernah lebih mengenal diri Anda sebaik Anda mengenal diri Anda sendiri.  Dengarkan kata hati, hiduplah selaras dengan alam, dan ini akan menjadi teladan serta bekal terbaik yang bisa Anda wariskan untuk anak Anda.

Referensi:

  • Simonton, O. Carl, Stephanie Matthews-Simonton, & James L. Creighton.  “Getting Well Again”, Bantam Books, USA, 1978.
  • Lewis, Thomas, Fari Amini, & Richard Lannon.  “A General Theory of Love”, Vintage Books, USA, 2000.
  • Lipton, Bruce.  “The Biology of Belief”, Mountain of Love / Elite Books, USA, 2005.
  • Braden, Gregg.  “The Divine Matrix – Bridging Time, Space, Miracles and Belief”,  Hayhouse, USA, 2007.