Pengasuhan Khas Ayah

Seperti ibu, ayah juga punya kekhasan dalam mengasuh anak. Keterlibatan penuh ayah –juga ibu– akan makin melengkapi jiwa anak.

Sedikit berbeda dari Parenting Classyang biasanya didominasi para ibu, hari Minggu 7 Juli 2013 yang lalu para ayah tak mau kalah hadir dan aktif berdiskusi dengan dr. Ayu Partiwi, SpA, MARS yang akrab disapa dr. Tiwi dan Dra. Ratih Andjayani-Ibrahim, MM, Psikolog, founder & Director Personal Growth. Hal ini karena tema yang diusung Parenting Class adalah “Ayah Hebat! Bersama Ibu Mengoptimalkan Anak”.

Tampak hadir pasangan Angga –vokalis Maliq D’Essentials– dan Melanie Putria bersama putra mereka, Sheemar Rahman Puradiredja. Juga, dr. Taufik Jamaan, SpOG bersama Istri, serta pasangan Sogi “Extravaganza” Indra Dhuaja dan Istiqomah Mattjik. Sayang Ben Kasyafani mendadak harus syuting sehingga Marshanda datang bersama bayinya, Sienna Ameerah Kasyafani. Demikian juga Pemimpin Redaksi Ayahbunda, Tenik Hartono, tidak menggandeng sang suami karena kelelahan sehabis mengurus pekerjaan hingga dini hari.

Acara yang dipandu A. Rahmat Hidayat dari @ID_AyahASIini berlangsung seru! Dengan bantuan ICT Watch – Internet Sehat, maka acara ini dapat disaksikan juga melalui streamingdi www.klinikdrtiwi.com dan www.ictwatch.com/live.


Mengenang Ieda Poernomo

“Acara ini sebenarnya sekaligus mengenang dan meneruskan pemikiran ‘guru’ saya yang meninggal pada tanggal 4 Desember 2012. Beliau adalah psikolog Dra. Ieda Poernomo Sigit Sidi. Ibu Ieda pada tahun 2007 menerbitkan buku “Ayah Vs Anak Lelakinya” yang sangat inspiratif,” ujar dr. Tiwi mengacungkan buku Ibu Ieda.

Lebih lanjut dr. Tiwi mengutip isi buku Ibu Ieda yang antara lain mengatakan bahwa ayah gamang melakukan perannya dengan berbagai perasaan terhadap anak lelakinya, yaitu bahagia, cemas, dan galau. Akibatnya, anak lelaki menjadi bingung. Jamanlah yang akan menjawab kondisi ini.

“Pengamatan saya di ruang praktik menunjukkan bahwa peran ayah itu sangat penting; tidak bsa diabaikan, bahkan sejak kehamilan dan persalinan,” sambung dr. Tiwi. IMD (inisiasi dini menyusu) adalah salah satu stimulasi pertama yang bisa dilakukan ayah pada bayinya. Ibu yang menyusui, ayah memberi support.“Sekitar 98% ibu yang berhasil menyusui didukung sepenuhnya oleh suaminya. Memang banyak ayah yang masih takut menggendong bayinya yang baru lahir, namun setelah anaknya lebih besar, para ayah ini menggendong dengan cara lebih gagah, sesuai maskulinitasnya. Tak jarang ayah menggendong anaknya dengan cara diselipkan di pinggang dan lengannya,” kata dr. Tiwi.

Dari pengamatan dr. Tiwi juga tergambar bahwa dibanding ibu, ayah umumnya lebih natural, kurang memerhatikan higienis dan cenderung menyukai kegiatan alam. “Kelihatannya beberapa hal tersebut buruk, padahal justru baik bagi anak untuk hidup secara natural, termasuk kegiatan di alam yang berdampak baik bagi oksigenasi otak anak. Kuman di rumah dan di alam itu pada umumnya adalah kuman baik, dan ini perlu dikenalkan pada anak agar tidak mudah sakit. Kuman yang paling jahat adalah yang ada di rumah sakit, jadi jangan ajak anak ke rumah sakit jika tidak sangat penting.”

Dr. Tiwi mengingatkan agar para ayah yang umumnya rasional dan melek teknologi, “Hati-hati mengenalkan gadget pada anak di bawah usia 3 tahun. Lebih baik tak perlu dikenalkan televisi, tablet PC dan smartphone, karena anak jadi tak bereksplorasi akibat keasyikkan menikmati gadget.”

Ayah yang berubah

Zaman dulu, kalau kita bicara soal pengasuhan anak, maka yang banyak disorot adalah ibu. Sekarang di zaman modern, para ayah juga terlibat dalam pengasuhan anak, karena tahu betul kalau anak butuh peran ibu dan ayah. “Pengalaman saya 25 tahun jadi psikolog membuktikan, anak-anak yang diasuh oleh ibu akan tumbuh bagus. Sementara bila ibu dan ayah sama-sama terlibat dalam pengasuhan anak sebagai partner, maka anaknya akan tumbuh menjadi outstanding atau luar biasa,” ujar Ratih Ibrahim.

Lewat ayah, anak lelaki akan belajar menjadi laki-laki sejati itu seperti apa. Lewat ayah, anak perempuan akan belajar bagaimana seharusnya diperlakukan oleh laki-laki, termasuk cara ayah memperlakukan ibunya.“Jadi, ayah yang betul-betul terlibat dalam pengasuhan anak, akan mengisi jiwa anak menjadi komplit,” tandas Ratih.

Bagaimana dengan pendapat anak laki-laki lebih dekat dengan ibu, sementara anak perempuan lebih dekat dengan ayahnya, benarkah? “Bisa benar, bisa tidak,” jawab Ratih. Pendapat tersebut ada sejak jaman Sigmund Freud di abad 18, yang mengatakan di masa remaja anak laki-laki akan memuja ibunya dan ayah sebagai saingan (Oedipus Complex). Dengan berjalannya waktu, nantinya anak laki-laki akan beridenditifikasi dengan ayah dan suka pada lawan jenis selain ibu. Sementara anak perempuan, ketika remaja mulai sadar kalau dia tak punya penis dan menyalahkan ibunya. Lalu mulai suka pada ayah dan cemburu pada ibu (Electra Complex).

“Namun dari fakta yang ada, yang saya hadapi sehari-hari sebagai psikolog, ternyata teoriattachmentmembuktikan bahwa anak-anak tidak memilih peran jenis kelamin,” sambung Ratih. Anak akan memilih caregiver-nya; memilih orang yang paling membuat dirinya merasa aman dan nyaman. Biasanya pada mereka yang memberi makan, yaitu ibu yang menyusui. Namun, para ayah masa kini juga sangat terlibat sejak IMD, ikut memeluk, mengajak ngobrol, memberi dukungan, sehingga anak juga merasa aman dan nyaman.

“Jadi, kalau ibu dan ayah sama-sama bisa memberi rasa aman dan nyaman pada anak, maka jiwa si anak akan penuh, komplit! Hasil dari attachment ini baru akan tampak jelas di usia perkembangan anak yang lebih besar, ” tandas Ratih lagi.Ratih mengungkapkan, sumber beragam masalah anak yang datang ke ruang praktiknya –mulai gagal tumbuh kembang, gangguan emosi, gangguan perilaku hingga gangguan kepribadian– adalah pada keluarga, yaitu pada relasi orang tua yang tidak harmonis.

Lalu apa yang dapat dilakukan oleh para ayah pada anak dan keluarganya?

  • Be there.Sesibuk apa pun, luangkan waktu untuk anak, karena waktu tak pernah jalan mundur. Pada saat meluangkan waktu untuk anak, ayah benar-benar hadir untuk anak dan pasangan. Singkirkan semua hal yangberpotensi mengganggu kulitas kebersamaandengan keluarga, termasukgadget.
  • Be happy. Pada saat bertemu dengan anak, kapan pun, bergembiralah dan ikhlas. Karena, gembira itu membuat jiwa kita sehat. Selain itu, jadilah ayah yang empatikdan bukan ayah yang galak. Pada saat anak galau, jangan ragu untuk memeluknya karena pelukan dan sentuhan akan menyembuhkan luka hatinya.
  • Be focus.Fokus hanya pada keluarga, sehingga seisi rumah menjadi tenang.


Di akhir acara Parenting Class kali ini, 5 peserta yang beruntung mendapat door prize istimewa berupa paket DVD acara Parenting Class yang telah terselenggara rutin tiap bulan selama hampir setahun ini. Selamat!

Subscribe Youtube: drtiwitv