Kulit Terawat, Bayi Sehat

Kulit merupakan cermin kesehatan seseorang yang perlu perawatan rutin sejak lahir.

Kulit adalah salah satu organ yang sensitif setelah bayi lahir. Salah satu perawatan yang utama adalah mendapatkan makanan yang terbaik, yaitu air susu ibu (ASI). “Makanan berkaitan erat dengan kesehatan kulit bayi, khususnya alergi, dan menyusui dapat mencegah terjadinya alergi pada anak,” ujar dr. Ayu Partiwi, SpA, MARS, yang biasa disapa dr. Tiwi, pada acara Parenting Class bertema “Kulit Terawat, Bayi Sehat” di Auditorium RSU Bunda Menteng, Jakarta, pada tanggal 24 November 2013.

Lakukan food challenge

Lebih lanjut dr. Tiwi mengingatkan bahwa bila sudah positif terdeteksi bayi mengalami alergi pada satu jenis makanan tertentu, ibu menyusui boleh saja pantang makanan jenis tersebut. “Namun, saya tidak menganjurkan bayi pantang makanan tertentu terlalu lama. Saya lebih suka melakukan food challenge,” ujar dr. Tiwi.
Food challenge adalah menghindari makanan hanya pada periode tertentu (2-3 minggu). Coba lagi makanan sumber alergi setelah ibu menyusui pantang selama 2-3 minggu, lalu lihat reaksinya pada bayi. Bila tidak menimbulkan reaksi alergi pada bayi, teruskan pemberian makan tersebut. Namun bila menimbulkan reaksi alergi seperti : bentol di kulit, angioedema (bengkak di bibir/mata), muntah (biasanya 30 menit setelah makan), maka stop dulu makanan tersebut selama 1-2 bulan, kemudian coba lagi dan amati. Begitu seterusnya.

Dr. Tiwi menekankan bahwa bila ibu menyusui atau bayi terlalu banyak pantang, maka terjadinya kurang gizi pada anak jauh lebih berbahaya daripada alergi itu sendiri. Bila memang sudah terbukti anak mengalami alergi pada satu jenis makanan, upayakan menggantinya dengan jenis makanan lain yang mengandung sumber zat gizi sama.

Reaksi simpang terhadap makanan yang berpengaruh terhadap kulit bayi bukan hanya alergi, namun bisa jadi karena intoleransi, misalnya intoleransi laktosa. Kandungan laktosa pada ASI cukup tinggi dan zat ini dibutuhkan oleh otak. Namun di awal kehidupan bayi, ususnya belum dapat mencerna laktosa dengan baik sehingga buang air besarnya seperti diare. Hal ini normal pada bayi ASI dan akan hilang dengan sendirinya sejalan dengan matangnya fungsi pencernaan bayi.

Bagaimana dengan tes alergi? Pada bayi agak sulit dilakukan karena tidak semua alergi bisa dibuktikan dengan tes. Yang bisa dibuktikan dengan tes urin dan tes darah bila ada peran immunoglobulin E (IgE), sementara ada alergi yang tidak ada immunoglobulin E (non-IgE). “Itu sebabnya, saya pribadi tidak pernah melakukan tes alergi pada bayi. Saya lebih suka dengan food challenge,” papar dr. Tiwi.

Perawatan bukan ketergantungan

Pernah meraba kulit bayi? Berkeringatkah? “Itu sebenarnya bukan keringat, tapi menunjukkan bahwa kulit bayi lembap. Itulah kulit yang sehat. Kita harus waspada bila kulit bayi kering, busik,” ujar dr. Tina Wardhani Wisesa, SpKK (K). Menurut dokter spesialis kulit ini, perawatan rutin bukan berarti menjadi ketergantungan dan kulit menipis, karena kulit itu hidup dan membentuk regenerasi sel-sel baru di bawahnya. Perawatan rutin kulit bayi tujuannya untuk mempertahankan fungsi utamanya sebagai pelindung dan mencegah atau mengurangi iritasi.


Perawatan rutin pada kulit bayi sebaiknya dilakukan dengan kasih sayang dan bisikan lembut sehingga bayi merasa hangat dan nyaman. Perawatan tersebut meliputi memandikan (bagi bayi yang tinggal di daerah panas seperti Jakarta, Surabaya, Bali dan Medan, wajib mandi 2 kali sehari, pagi dan sore), memerhatikan penggunaan pakaian dan popok, serta menjemur bayi setelah mandi di pagi hari.

Bagaimana dengan penggunaan kosmetik bayi seperti sabun, sampo, lotion, oil, krim dan cologne? “Produk untuk pemelihaaan kulit diperlukan untuk mempertahankan fungsi utama kulit, termasuk mencegah efek buruk sinar matahari. Namun produk wewangian lebih ditujukan untuk kesenangan lingkungan,” ujar dr. Tina. Itu sebabnya, pada bayi yang kulitnya sensitif, tidak dianjurkan penggunaan produk kosmetika berlebihan.

Lebih lanjut dr. Tina menjelaskan secara rinci berbagai masalah kulit pada bayi yang sering terjadi, seperti eksim susu (dermatitis atopik), biang keringat (miliaria), dan ruam popok (napkin dermatitis). “Istilah eksim susu sebenarnya salah kaprah karena eksim susu bukan disebabkan air susu ibu, tetapi karena ada riwayat atopi pada bayi, seperti asma dan bersin-bersin,” tandas dr. Tina. Pencetus gangguan ini bisa karena alergen hirup (debu, tungau), alergen makanan, dan suhu panas.
Pada bayi yang kulitnya bermasalah, perlu diperhatikan penggunaan produk kometik. Karena, penggunaan yang tidak tepat justru akan memperberat keluhan pada kulitnya. Segera ke dokter bila kelainan kulit bayi seperti eksim susu, biang keringat maupun ruam popok semakin meluas dan menunjukkan tanda-tanda kulit bernanah, meradang berwarna merah cerah, dan bayi demam serta rewel.

Subscribe: Youtube drtiwitv